Coffee


Axel mana? Kok tahu-tahu sudah tidak bersamanya lagi ya?

Entah sekitar sembilan menit empat puluh satu detik yang lalu—oke, bukan perhitungan sebetulnya karena Veronica sendiri tidak melirik jam tangannya sama sekali wakakakak—sosok kakak kembarnya sudah tidak ada disampingnya yang tengah menikmati minuman wajibnya. Tuh, lihat saja botol minumannya yang masih terisi hampir setengahnya oleh cairan semi-cair berwarna putih-bukan-bening yang sederhananya disebut susu. Si botol masih berada dalam genggaman tangan anak perempuan tersebut—yang kini mulai mencari keberadaan Axel sekarang ini. Ada rasa khawatir yang terpancar dari sekitar mata cokelat pekatnya. Bukannya apa-apa loh, kawan, tahu sendiri kan kakaknya itu orangnya seperti apa?

Pemalas, kurang tidur, dan kawan-kawannya. Nyahahaha. ‘Hebat’nya, Veronica harus selalu mengawasi dan memperhatikan kakaknya. Kalau tidak, bisa terjadi apa-apa.

NAH, ITU YANG DARITADI IA PIKIRKAN, KAWAN!

Sementara kedua bola matanya masih mencari-cari sosok yang sangat sangat sangat dikenalinya itu, sepasang kakinya mulai dikomando untuk berjalan menjelajah jalan Laliv ini. Jalanan yang katanya selalu dipenuhi oleh para penyihir. Humm.. sihir ya? Coba saja kalau Veronica bisa memanggil Axel dengan sihir dan dalam sekejap orang itu sudah berada di sebelahnya. Wakaka, mimpi memang. Tapi sebetulnya apa yang tidak mungkin kalau sihir pun bisa digunakan olehnya? Sihir apanya dulu nih? Ah sudahlah, jangan terlalu banyak membahas masalah sihir. Yang ia khawatirkan sekarang adalah: Lee Seung Woo. Axel Nathanov Lee. Apapun kalian memanggilnya, yang pasti dia itu adalah kakak kembarnya.

Ngomong-ngomong, penampilannya hari ini tidak terlalu kontras dengan orang-orang sekitarnya kan? Gawat kalau sampai iya. Euh, tetapi apa yang anak kecil tahu sih soal penampilan, kan?

(annoyed)

Oh well, cukup basa-basinya karena Veronica sudah menemukan Axel. HYAH! Benar juga kan apa yang ia khawatirkan sejak tadi? Veronica heran dengan kakaknya, yang dengan hebatnya bisa sampai tertidur di tempat seperti ini. Apa Axel lupa ya kalau mereka kan juga menyewa kamar di hotel Mihalovna? Kamarnya juga lumayan nyaman. Tapi ya begitulah, kakaknya hampir tidak pernah terlelap di malam hari—setidaknya itu yang selalu ia perkirakan kalau Veronica kebangun sebentar cuma karena mimpi buruk—dan imbasnya selalu kena pada siang hari. Nah, lihat sekarang kakaknya yang tertidur. Mau Veronica cubit cuma.. bagaimana ya? Nanti takutnya Axel terbangun. KAN TAPI Axel harus bangun, setidaknya untuk pindah tempat tidur, gitu? Mengambil posisi duduk tepat di samping Axel, Veronica langsung menepuk kedua pipinya dengan pelan.

Oke, Veronica akui pipinya terlalu enak untuk ditepuk sekali dua kali. Harus sering, apalagi kalau Axel sedang tidur. MUAKAKA.

“Axel—ah, Seung Woo-oppa, banguuunn~”

Apa mau dibanjur pakai kopi saja? Jangan ah jangan. (masih menepuk pipi Axel)

Labels: ,