Crozak Witch Tailor (1991)


Mungkin hari ini seharusnya Veronica tidak dibilang bolang alias bocah hilang lagi. Karena.. YAY, ada Papa yang menemaninya berbelanja. Habisnya kalau sama Axel melulu, hampir sering dicueki sih. Sekarang pun Axel malah disuruh sama Papa untuk membeli buku. Coba kalau Veronica yang disuruh untuk membeli buku untuk mereka berdua sendirian kesana—dan lagipula sebenarnya itu ide iseng Veronica agar Axel tidak terlihat malas-malasan melulu. HYAKAKA—maaf ya, oppa. Habis habis habis, kadang kan jengkel juga kalau Veronica melihat kakaknya terus-terusan bermalas-malasan di sampingnya. Oke lah, sepertinya sih itu sudah bawaan Axel sejak kecil, Veronica memang tidak terlalu ingat soal masa kecilnya dulu. Oh, dan juga sekalian kalau Axel mau beli buku yang lain kan? Veronica suka mengintip kedalam kamarnya Axel sebelum dia tidur di kamarnya dan menemukan Axel pasti sedang membaca buku, milik Papa pula.

Rahasia loh ya. Psst.

Dan kini sosok mereka berdua sudah berada didepan pintu masuk satu toko. Toko baju sihir. Seolah yang melayang didalam pikiran Veronica saat ini adalah baju yang bisa melayang atau sepatu yang bisa membuat pemakainya berjalan cepat karena sihir. Wakakaka—itu semua memang isi pikiran si kecil Veronica ini. Papa saja tertawa waktu Veronica tanya, “Appa, kalau topi yang bisa menari sendiri ada tidak?” sewaktu tangan kecilnya mendorong pintu toko tersebut. Gadis kecil yang kini masih berbalut jaket hitam itu—sumpah, dingin sekali disini, kalau Veronica buka jaketnya dia bisa langsung meriang ditempat—juga mulai melepas tawa renyahnya. Hmm.. Coba kalau Veronica tanyakan ini pada Axel.. ah, Veronica sudah tahu jawabannya. Lebih baik tidak usah tanya kepada orangnya sajalah. (muka memelas sambil menegak isi botol minumannya)

Dan seharusnya kakaknya itu sudah kembali kesini. Masa Axel tidak mau dibelikan baju sekolahnya segala sih?

Omona, Veronica cuma bisa geleng-geleng kepala. Memang ternyata yang mau memesan paket baju sekolah Durmstrang banyak juga—oh, dan juga Veronica merasa aneh lagi kalau nanti memesan harus memakai bahasa Rusia juga. Belum terlalu lancar, masalahnya. Paling dicampur sama bahasa Inggris, kalau bahasa Korea-nya tidak keceplosan seperti beberapa waktu lalu. Melirik kearah Papa—seolah Veronica sedang berkata, “Appa, kenapa aku merasa takut ya?” dengan tatapan setengah memelas cuma karena melihat mesin pengukur (betul tidak sih?) di sudut toko. Wakakaka, Veronica memang sedikit berbakat untuk urusan ini. O—oke, giliran Veronica, dan si mesin langsung menaiki mesin itu, timbangan maksudnya. Langsung ada secarik kertas. Ada namanya ada namanya—dan tulisannya benar. Veronica Nathanova Lee. Kenapa tidak sekalian nama Korea-nya saja ya? Memusingkan.

(langsung menuju konter)

”P—permisi, satu paket jubah untuk murid Durmstrang, y—ya?”

Oke, gagap, tak masalah. Sebentar lagi juga pasti lancar. Hoh.

Axel mana? Kesini dong, secepatnya. (tampang desperate)

Labels: , ,