First Letter


“Axel lucu kalau tidur ya. Hihihi..”

Tak ada kegiatan berarti bagi Veronica selain melihat kakak kembarnya tidur nyenyak. Sebenarnya Veronica kesal juga sih melihat kakaknya yang kerjaannya tidur melulu, seolah tidak ada hal yang bisa mereka lakukan bersama. Iya sih, mereka kan memang sudah bersama sejak kecil—ya namanya juga bersaudara tidak mungkin terpisah kan? Matanya berbinar, seolah sedang melihat boneka beruang kesayangannya yang masih ada di salah satu sudut kamarnya. Iya, Axel mirip boneka yang bisa bernafas, bagi Veronica—sebut dia gila, tapi kan memang begitu kenyataannya. Coba saja kalau pipi Axel tembam—umm.. JANGAN! Axel kurang lucu kalau pipinya tembam, penampilannya yang seperti ini saja sudah lucu dan.. Err—tampan! Ya, mirip-mirip sama Papa mungkin ya? Habis Papa juga tampan.

Berarti beruntung juga Veronica punya ibu secantik Mama. Wakakakak.

Setengah usil, Veronica mencolek pipi Axel yang tengah tertidur di sofa kamar Axel. Haha, barusan sih memang Veronica dipanggil sama Mama, entah untuk apa. Namun, melihat sosok Axel yang tengah terlelap malah membuatnya melupakan panggilan Mama—maaf ya! Senyuman jelas terkembang dari bibir Veronica, seperti layaknya senyuman kemenangan. Kedua kakinya yang terbiasa berbalut sepatu bertali itu menghentak-hentak pelan diatas lantai, menghasilkan nada tuk-tuk-tuk yang pelan sehingga—ya, semoga saja—tidak dapat membangunkan Axel. Tahu kenapa Veronica memakai sepatunya meskipun didalam kamar? Oh, ini memang sudah sejak kecil kalau sedang menghadapi musim dingin. Biasanya, walaupun diluar ruangan maupun dalam ruangan Veronica suka merasa kedinginan sendiri. Jadi keluarganya lumayan tidak heran sih kalau ada tapak sepatu didalam rumah. Nyakakak.

Matanya Axel mau berkedip-kedip.

GYAH—kenapa bisa kebangun seperti ini coba?

Manik cokelat pekatnya membelalak. Dia memang tahu kalau Axel terbangun pasti hanya karena diganggu olehnya—selalu oleh Veronica, the annoying girl with innocent face. LOL. Bangkit dari duduk, Veronica langsung berlari menuju kamarnya sendiri dan langsung tidur-tiduran sambil membuka buku kecil bersampulkan fotonya. Bukan album foto sih, tapi hanya seperti notes tidak jelas yang isinya pun tidak jelas. Dan ada yang mengetuk pintu. HAH, semoga bukan Axel yang akan menceramahi—oh, Mama. Datang dengan segelas susu coklat hangat, seperti biasa. Mungkin karena ini kali ya Mama tadi memanggilnya. Yah, tahu begitu kenapa tadi tidak langsung menghampiri Mama ya? Jawabannya: ada Axel lucu sedang tidur di kamarnya. Nyahaha.

”Habis dari kamar Axel ya?”

Ke-ta-hu-an. Habisnya bagaimana lagi, tapak sepatunya tidak mudah dibohongi sih. Veronica nyengir lebar. ”Jangan terlalu sering mengerjainya, nanti dia membencimu, loh,” Mama kembali tersenyum manis sambil mengelus rambut Veronica yang kini mulai panjang sepunggung itu. Tuh kan, Mama sama Papa tidak akan menggertaknya seperti halnya Axel pada Veronica. Mama baik ya? Kedua tangannya mengacungkan jempol seraya Mama-nya keluar dari kamar. Dan beberapa menit setelahnya, Veronica mulai merasakan ada yang aneh dengan tubuhnya. Makin kedinginan? Sepertinya sih harus kedekat perapian sih. Beranjak bangun dari tempat tidur, Veronica langsung melangkahkan kakinya yang masih berbalut sepatu itu ke ruang tamu. Lewat kamar Axel lagi dan sepertinya dia mulai pindah tempat ke tempat tidurnya mungkin? Ah—rasa kedinginannya ini membunuh rasa gemasnya pada kakaknya tersebut dan membuatnya cepat-cepat kedepan perapian. Iya, memang, Veronica tidak terlalu terbiasa dengan udara Rusia yang begini. Beda mungkin dengan Papa, Mama, ataupun Axel yang biasa saja.

”TUAAAAN... TUAAAAN.. SURAT ANDA TIBA TUAN. BERBAHAGIALAH..”

“WAKS!”

Terlonjak ke belakang, kepala Veronica hampir saja terantuk kursi yang ada dibelakangnya—namun membuat gelas yang berisi susu disampingnya itu terjatuh dan menumpahkan semua isinya, penuh. Mimpi apaan Veronica semalam? Apa ini karena karma Veronica menjahili kakaknya terus? TIDAK MUNGKIN! Namun makhluk itu langsung menghilang dengan meninggalkan surat berlabelkan namanya dan nama Axel. Surat? Jadi yang tadi pengantar surat? Pengantar yang normal biasanya kan lewat depan rumah—yang tampak depannya serupa dengan rumah lain disebelahnya dan didepannya, haish—ini kenapa harus di perapian coba? Ah, lupakan. Sepertinya harus tanya Papa, soalnya Papa juga pernah magang di kantor pos Rusia—apalah itu namanya. Maklum, Veronica masih kurang lancar bahasa setempat.

Kedua tangannya mengambil kedua surat itu dengan takut. Siapa tahu pengantar surat aneh itu datang lagi, dan kemudian datang setiap malam—itu bagus juga, jadi bisa menemani Axel nyahahaha. Lupakan. Durmstrang? Sesegera mungkin ia langsung berlari lagi menuju kamar Axel, melupakan sejenak susunya yang tumpah sepenuhnya itu—padahal masih hangat, sayang sekali. “Axel, Axel, bangun dong. Tahu tidak ini surat apaan?”


Durmstrang Institute of Magic
Principals: Igor Karkaroff

Mrs Lee yang terhormat.

Dengan segala hormat, kami beritahukan bahwa Anda telah diterima di Institut Sihir Durmstrang. Tiket beserta daftar semua kebutuhan anda selama bersekolah di Institut ini sudah terlampir. Harap tidak menghilangkan tiket tersebut karena tiket tersebut akan digunakan untuk menyeleksi Anda ke dalam salah satu dari empat asrama besar Institut Sihir Durmstrang. Tahun ajaran baru akan dimulai pada 15 Januari 1990. Sekian pemberitahuan kami.

Hormat saya,
Miranda Schutzerne Wakil Kepala Sekolah.

Kalau Axel tidak tahu?

Labels: ,