Gravel Beach, Vladivostok


Penawaran spesial dari Papa. Jalan-jalan berdua ke pantai. YAY! Axel sih, karena memang anaknya pemalas dan rajin tidur setiap hari, ya tidak diajak. Lagipula kan memang Papa mengajak Veronica saja. Serius, Veronica beruntung punya ayah seperti Papa.

Berbalut t-shirt berkerah berwarna kuning dan celana yang lumayan pendek berwarna putih, hari ini Veronica menemani Papa yang kebetulan sedang kedapatan shift pagi sampai siang—tidak seperti biasanya yang kadang bisa double pagi dan malam—ke pantai. Haha.. Sudah lama sumpah Veronica tidak pergi ke pantai. Paling terakhir itu kalau tidak salah ke pantai Eurwangni di Korea Selatan sana—di Incheon tepatnya, di kota kelahirannya. NYAHAHA. Kalian lihat manik cokelat pekatnya yang terlihat gembira itu kan? Sumpah, tadinya Veronica kira Rusia tidak punya pantai sama sekali. Maklum, lah, Veronica kan tidak pernah buka-buka peta atau sekedar iseng melihat globe. Tapi jangan meragukan kecerdasannya. Hahaha..

Sudah ah meracaunya.

”Jangan jauh-jauh atau Papa tinggalkan nanti, ya?”

Mengangguk cepat, dan gadis kecil yang masih setia memakai sepatu tali berwarna putih mulai beranjak pergi mendekati pantai. Tapi bosan, soalnya juga Papa entah mau pergi kemana—yang pasti sih ke sekitar pantai juga. Jadi terbayang kalau ada Axel disini. Sekalinya kena tiupan angin dari arah laut, apakah nanti dia akan langsung tertidur ya? Seperti dihipnotis saja. Asal kejadiannya jangan seperti kemarin-kemarin lagi, waktu Axel meniduri bahunya dan dengan refleks memeluk lengannya seolah lengannya sama dengan bantal guling. Haaahh—sepertinya lain kali Veronica tidak akan menawarkan bahunya sebagai gantinya bantal tidur bagi Axel. Tapi kapan lagi coba bisa melihat senyum manis yang—uuuuuuhhh MINTA DICUBIT! Sudahlah, manik matanya menangkap pinggir pantai yang agak ramai. Hahay, pantai kita bertemu lagi pada akhirnya, hm? Surai cokelat panjangnya yang tergerai mulai terbelai oleh tiupan angin khas laut. Secara tak sadar, kakinya menghentak-hentak diatas pasir sembari berjalan menuju target tujuannya itu. Entah kenapa tangannya terasa gatal. Apa karena efek dari memakai gelang di pergelangan tangan kirinya ya? Tidak tahu, ah, biasanya juga tidak pernah seperti ini kok.

Dan tahu tidak kalau disebelahnya, dalam radius jarak tiga meter dari tempatnya dia berdiri, ada yang sedang bertengkar hebat? Melirik sedikit, seperti bertengkar hebat. Urusan cinta ya? MWAKAKA. Maklumkan Veronica yang suka menonton televisi bersama Mama, ada-ada saja drama yang adegannya mirip seperti yang terjadi kali ini. Senyum timpang menghias wajah sang gadis kecil, melirik ada seorang anak lelaki lagi yang melerai mereka berdua. Bah, kurang seru. Kapan lagi Veronica bisa melihat adegan syuting langsung on the spot? Oke, oke, Veronica sekali lagi meracau. Sisi tomboynya mulai keluar perlahan. Sifat alami, biasa, untung kemarin tidak ia keluarkan ketika bahunya ditiduri oleh Axel. Kalau iya, wajah Axel hari ini bonyok seketika. Haha—bercanda kok, ya kan, Axel? (mengangkat kedua alisnya) Tapi pemandangan seperti ini merusak suasana tenangnya, tahu tidak? Iya, Veronica kesini untuk tenang, bermain dengan pasir ala Rusia mungkin saja bisa membuatnya senang. Namun, masa bodoh dengan itu. ”HEI, KALIAN HARUSNYA JANGAN BERTENGKAR DISINI, TAHU TIDAK!?”

Veronica lupa kalau mereka tidak bisa berbahasa Korea. Geez..


OoC: Veronica ngomong pake bahasa Korea, btw x3

Labels: ,