Gravel Beach, Vladivostok
Thursday, October 15, 2009 at 5:34 PM
Dan hampir semua orang melirik kearahnya. Iyalah, seorang anak yang kini berusia kurang lebih sepuluh tahun dengan paras yang berbeda dengan kebanyakan orang Rusia pada umumnya, berteriak keras dengan bahasa ibunya—ralat, ayahnya, Papa orang Korea sih—dan menarik perhatian orang lain. Itupun kalau Veronica tidak kepedean. HAHAHA.
Manik cokelat pekatnya mulai menelisik apa yang sedang orang-orang itu—iya, yang itu tadi yang diteriaki oleh Veronica—lakukan. Membahas masalah bahasanya yang terdengar aneh ditelinga mereka barangkali? Tidak tahu ah, lagipula kalau dilihat-lihat juga wajahnya hampir tidak ada bedanya dengan Veronica, berwajah Asia. BENAR KAN? Hah, untunglah yang berwajah Asia hari ini tidak hanya Veronica dan Papa saja. Kakinya kali ini melangkah sekali mendekati mereka—yang entah mau bertengkar lagi atau mau apa lagi. Bibirnya manyun sedikit. Maklumlah, Veronica memang tidak biasa melihat yang seperti ini di rumahnya. Soalnya yang laki-laki di rumah kan cuma Papa dan Axel. Mereka tidak pernah bertengkar seperti itu kan? TENTU SAJA TIDAK, dunia bisa kiamat kalau Papa dan Axel bertengkar. Nanti Veronica sama Mama mau kemana coba? Wakakak.
BAHASA JEPANG. Prett.
Veronica sering lihat kok kalau misalkan Papa lagi berbicara menggunakan bahasa Jepang. Biasanya kalau bukan dari pihak kantornya paling temannya di kuliah—jangan ketawa, ini serius. Sepertinya pernah deh Veronica coba pada Axel, dan yang Axel lakukan saat itu cuma berbicara malas-malasan dan tidur lagi. Hih, kakak kembarnya memang aneh. Tidak heran memang kalau Veronica sering melakukan keisengan terhadap kakaknya yang satu itu. BUAHAHA. Dan dirinya menemukan seorang laki-laki yang memakai hoodie hitam—aneh, padahal pantainya tidak terlalu dingin, sejuk malah—menghampirinya dan..
“Mianhae. Mereka memang bodoh.”
Aaaah—bisa bahasa Korea juga ternyata. Seringaian lebar menghiasi rona wajahnya kali ini.
”E—err.. Gwaenchanayo,” badannya refleks membungkuk sedikit. Papa yang mengajarkan ini padanya. Tapi gerakan yang satu ini tidak akan pernah berlaku sepertinya kalau sudah berhadapan dengan Axel. Nyahahaha. Jangan tanya kenapa pada Veronica. Tanyakan pada angin pantai yang kini berhembus melintasi tubuhnya yang membuat Veronica merasa senang dapat menghirup udara pantai lagi hari ini. Ah ya, Papa kemana ya? Jangan-jangan tidak akan kesini lagi. Ah—jangan sampai, Papa kan pasti kesini lagi. Manik cokelatnya kembali menatap laki-laki dengan tinggi ideal—kira-kira hampir lumayan sama dengan Axel atau bahkan lebih ya? Entah Veronica juga lupa (loh?) atau malah setinggi Papa ya? Iya kan, Papa tinggi bahkan tinggi badan Veronica baru sampai seberapanyalah. Oh ya, satu yang baru diperhatikan oleh Veronica, warna mata yang kanan sama yang kiri milik anak laki-laki itu beda. Apa mata Veronica salah lihat? ”Mereka lagi ngapain sih, ngomong-ngomong?” Keterusan. Ck ah.
Labels: 1991, Holiday Place